Kita-Kita

Rabu, Desember 22, 2010

Hari IBU


Bagaimana keadaan sahabat-sahabat hari ini, bagaimana perkembangan teman-teman saat ini. Betapa bersyukurnya dan betapa bahagianya kita hari ini bukan, dengan segala apa yang melekat dan segala apa yang kita dapat sampai hari ini. Bagaimana keadaan keluarga yang berada di rumah? Bagaimana keadaan IBU kita dirumah?
Rabu 23 Desember 2010, upacara bendera yang diadakan di kantor pusat BPK dipimpin oleh Prof. Dr. Ilya Avianti, upacara kali ini beda, semua petugasnya dari kaum hawa. Upacara bendera kali ini dalam rangka memperingati hari IBU, inti dari pidato yang disampaikan oleh pemimpin upacara adalah agar kita semua meneladani semangat dan keiklasan dari para IBU untuk berjuang, entah itu berjuang dalam konteks apapun.

Sejenak sebelum upacara tadi diri ini terlamun, terbawa suasana rumah dengan kehangatan keluarga dan kasih IBU tentunya. Perlahan kita telah tumbuh dengan baik, bahkan dengan sangat baik saat ini. Terlintas samar waktu –waktu yang telah berlalu, kesediaan IBU untuk selalu mengawal pertumbuhan kita tanpa kita minta. Sosok IBU tentu bagi kita semua memiliki citra positif yang berbeda, tetapi tetap ada persamaannya dimana sosok IBU ingin sekali kita copy paste ke dalam sosok wanita yang kelak akan menjadi IBU dari anak-anak kita.


IBU betapa bahagianya BELIAU kala dulu mengandung kita, walau beban berat dan derita ia bawa.

IBU betapa bersyukur BELIAU ketika kita membuka mata di dunia, baginya kita adalah anugerah yang tak tergantikan,
IBU begitu cerewetnya BELIAU memberi kita wejangan dan nasehat selama ini, tak pernah lelah tak pernah bosan, hanya supaya kita menjadi orang yang lebih baik,
IBU tak pernah lupa menyertakan nama kita dalam setiap doa BELIAU,
IBU yang terpuaskan hatinya melihat kini doa-doanya mulai jadi nyata, anak-anaknya menapaki kesuksesan dalam hidupnya,

Akankah kita masih mau mendengar saran, wejangan dan nasehat dari IBU kita hari ini? setelah kita [katanya] sudah mampu hidup sendiri dalam kedewasaan, atau tumbuh berkembang secara fisik tetapi entah secara moral. Akankah kita selalu menyertakan doa kepada IBU dan BAPAK kita saat kita sedang berdoa demi kesehatan mereka? Waktu memang bisa mengubah banyak hal, termasuk merubah kita, tetapi percayalah waktu tak mampu merubah kasih IBU kepada kita, anak-anaknya, seperti di lagu KASIH IBU, “kasih IBU kepada beta, tak terkira sepanjang masa”

Sedikit puisi jiplakan dari sebuah lagu dari tetangga sebelah,

buat IBU
Cintamu terbayang selalu
Hingga waktu tidurku
Saat kau menyebut namaku
Kau memanggilku sayang
Ketika cinta semakin dalam
Segalanya pun berubah
Kenangan indah tak terlupakan
Menjadikan suatu pertanda
Kau buka pintu hatiku
dalam kesepian ku kau beri
Sentuhan tulus cinta darimu
Hapus air mataku
Cintamu terbayang selalu
Semua perjalanan yang panjang
Saat kau menyebut namaku
Kau memanggilku sayang

-buat IBU-
dari lagu Jepang “Kokoro no Tomo”
crop from indrahuazu.com


*dalam postingan kali ini kami berusaha menulis kata IBU dan BAPAK dengan huruf kapital layaknya TUHAN, SIR, MAJESTY, SRI BAGINDA. Sebagaimana penulisan tersebut dimaksud untuk menghormati atau sekedar rasa hormat kepada mereka. Karena BAPAK dan IBU adalah orang yang selalu menginspirasi dalam hidup kami.


Diposting dengan ditemani ibu-ibu MIA yang hebat!!

3 komentar: